Kabar Golkar

Kedaulatan AI dari Pinggir

Oleh · · Opini

Wendhy N. Tuswandi
Wendhy N. Tuswandi

Mereka tidak membuat mesinnya. Mereka seperti nelayan yang membeli mesin tempel buatan Jepang, tetapi tetap tahu arus mana yang membawa ikan, dan bisa mengganti mesin itu tanpa kehilangan laut. Kedaulatan dalam arti ini bukan kemampuan membuat segalanya, melainkan kemampuan memilih dan tak tersandera.

Ada satu pembedaan kecil lagi. Terpinggirkan adalah nasib: awalan ter- dan akhiran -kan menyiratkan ada tangan lain yang mendorong. Meminggir adalah keputusan: seseorang sendiri yang bergerak ke tepi. Dalam film The Truman Show, Truman baru tahu dunianya dibangun oleh seorang produser setelah ia berlayar sampai ujung dan haluannya membentur dinding. Pinggir, kadang, adalah satu-satunya tempat dari mana panggung itu terlihat sebagai panggung.

IV
Di sini saya ingin berhati-hati dengan romantisme pinggiran.

Pinggir bukan tempat yang suci. Sebuah organisasi yang berdaulat atas datanya tak otomatis berbuat baik dengan data itu. AI milik partai politik bisa dipakai untuk mendengar pemilih, tapi juga untuk memetakan lawan, meniup kabar bohong, atau membujuk orang dengan presisi yang tak pernah dimiliki juru kampanye mana pun. Pinggir yang berhasil bisa berubah menjadi pusat kecil, dengan watak yang sama dengan pusat yang dulu ia lawan: tertutup, tak bisa diaudit, dan yakin bahwa niatnya sendiri sudah cukup sebagai jaminan.

Ada dua bahaya lain. Yang pertama terpecah-pecah: seribu pulau AI yang tak saling terhubung, masing-masing dengan standar keamanan sendiri, atau tanpa standar sama sekali. Yang kedua timpang: organisasi yang besar dan kaya akan lebih dulu berdaulat, sementara koperasi kecil di Flores tetap menyewa mesin orang lain dengan syarat orang lain. Jalan dari pinggir, kalau dibiarkan, justru bisa memperlebar jurang yang hendak ia sempitkan.

Walhasil, pendekatan dari bawah tak berarti negara boleh mundur. Perannya bergeser, dari pembangun tunggal menjadi penjaga aturan main: menetapkan standar keamanan dan keterhubungan, menegakkan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi yang sudah ada, mewajibkan keterbukaan bagi AI yang dipakai dalam kampanye politik dan layanan publik, dan menyediakan daya komputasi bersama yang terjangkau bagi organisasi yang tak mampu membangunnya sendiri. Negara tak perlu menanam setiap ladang. Tapi ia harus menjaga agar tak ada ladang yang meracuni sungai di hilir.

Tag: Opini, AI, Digital, MPO, Golkar