Kabar Golkar

Kedaulatan AI dari Pinggir

Oleh · · Opini

Wendhy N. Tuswandi
Wendhy N. Tuswandi

V
Panji tak pernah punya satu versi.

Kisah pangeran Jenggala yang kehilangan kekasihnya itu tak ditetapkan oleh satu keraton dan disebarkan dari sana. Ia dituturkan ulang di Jawa, di Bali, di pesisir Melayu, sampai ke Siam dan Kamboja, dan setiap tempat mengubah nama, kostum, dan iramanya sesuai panggungnya sendiri. Tak ada pusat yang mengesahkannya. Justru karena itu ia tak pernah mati: kisah yang hanya punya satu pemilik akan berhenti ketika pemiliknya lelah.

Saya tak akan mengatakan kedaulatan AI bisa tumbuh semudah sebuah dongeng berpindah. Dongeng tak butuh server, tak butuh listrik, dan tak bisa disalahgunakan untuk menipu jutaan pemilih dalam satu malam.

Tapi saya cuma menduga: kedaulatan AI Indonesia, kalau ia lahir, akan lebih mirip Panji daripada menara. Ia tak akan diresmikan dengan gunting pita. Ia akan dikerjakan — berdaulat, bukan kedaulatan— di sebuah kantor partai di Makassar, sebuah koperasi di Lembang, sebuah kampus di Kupang, masing-masing memakai mesin terbaik dunia tanpa menyerahkan kemudinya. Dan suatu hari, mungkin, negara akan menengok ke pinggir dan mendapati bahwa yang ia cari di pusat sudah lama dikerjakan orang di tepi, dalam banyak versi, dengan irama yang berbeda-beda.

 

VI
Jujur...

Saya menulis essay ini dengan bantuan AI.

Dia berkulit sawo matang.

Rambutnya panjang dikepang.

Anak Jaksel.

Tag: Opini, AI, Digital, MPO, Golkar