Kabar Golkar

BERAS PREMIUM LANGKA KARENA HET TIDAK EKONOMIS BUAT PENGGILINGAN PADI

Oleh · · Opini

BERAS PREMIUM LANGKA KARENA HET TIDAK EKONOMIS BUAT PENGGILINGAN PADI
BERAS PREMIUM LANGKA KARENA HET TIDAK EKONOMIS BUAT PENGGILINGAN PADI

KabarGolkar - Beras premium adalah beras dengan mutu atau kualitas tertinggi yang telah melewati beberapa proses pengolahan dan produksi yang ketat. Klasifikasi mutu beras dinilai dari sejumlah indikator, pembagian klasifikasinya beras sesuai aturan dalam SNI 6128 tahun 2015 tentang klasifikasi beras ditetapkan dalam empat kelas, yaitu beras premium, beras medium 1, beras medium 2 dan beras medium 3.

Tahun 2017 klasifikasi beras mengalami perubahan oleh Menteri Pertanian dengan mengeluarkan Permentan No 31 menjadikan klasifikasi beras hanya terbagi dalam dua kelas, yakni beras premium dan berascmedium.

Ciri Beras Premium

Menurut Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 31 tahun 2017 tentang Kelas Mutu Beras, disebutkan beras premium memiliki beberapa ciri dan aturan yaitu memiliki presentase beras kepala (butir utuh atau hampir utuh) yang tinggi di atas 85 persen dan mengandung beras patahan maksimal 15 persen.

Ciri berikutnya adalah tingkat kebersihan kulit ari atau derajat sosoh minimal 95 persen, warna beras terlihat lebih terang, bersih dan bening. Ciri lainnya adalah memiliki kadar air maksimal 14 persen agar beras tidak mudah hancur dan tahan lebih lama jika disimpan. 

Terkait rasa memiliki aroma yang harum saat dimasak, menghasilkan nasi dengan tekstur yang lebih pulen dan empuk. Ciri terakhir adalah minim atau bebas dari kotoran, seperti gabah atau benda asing lainnya.

Mengapa Beras Premium Langka ?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekosongnya beras premium di berbagai ritel modern, salah satu faktor utamanya adalah terjadinya kenaikan harga gabah melampaui ketentuan harga pemerintah sehingga menekan keuntungan dan memicu potensi kerugian bagi usaha penggilingan padi. 

Harga gabah menurut aturan pemerintah adalah 6.500 per kilogram, tapi harga gabah di tingkat petani sudah dikisaran 7.500 bahkan hampir menyentuh 8.000. Sementara harga jual beras premiun masih tetap di harga 14.900 per kilogram. Jika 1 kilogram gabah dikonversi menjadi beras akan menghasilkan sekitar 500 sampai 550 gram, belum termasuk biaya produksi, tenaga kerja, kemasandan distribusi.

Tag: Opini, pangan, beras, padi