Kabar Golkar

Bahlil dan Energi Kerja: Dari Desa Terang Menuju Kedaulatan Energi Indonesia

Oleh · · Opini

Prof. Ali Mochtar Ngabalin
Prof. Ali Mochtar Ngabalin

Karena itu, konversi secara bertahap dari pembangkit berbasis diesel menuju energi terbarukan memiliki arti strategis.

Semakin banyak energi surya yang dapat kita produksi, semakin besar peluang mengurangi konsumsi solar untuk pembangkitan. Semakin kecil ketergantungan terhadap solar, semakin besar pula kesempatan mengurangi kebutuhan impor BBM.

Inilah mengapa transisi energi jangan hanya dibaca sebagai agenda lingkungan.

Transisi energi adalah agenda ekonomi. Transisi energi adalah agenda geopolitik. Dan pada akhirnya, transisi energi adalah agenda kedaulatan nasional.

Bukan hanya Membangun PLTS

Yang menarik, pembangunan PLTS 100 GWp juga dapat menciptakan efek ekonomi yang jauh lebih luas.

Indonesia telah mulai memiliki industri panel surya serta industri baterai penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS) di dalam negeri.

Artinya, apabila dikelola secara konsisten, program PLTS bukan hanya menghasilkan listrik.

Kita dapat membangun rantai industri.

Panel surya diproduksi di Indonesia. Baterai dikembangkan di Indonesia. Tenaga kerja Indonesia memperoleh kesempatan kerja. Industri pendukung tumbuh. Teknologi berkembang dan investasi masuk.

Bahlil menyebut potensi investasi untuk keseluruhan Program PLTS 100 GWp dapat mencapai sekitar Rp1.140 triliun.

Bayangkan multiplier effect apabila investasi sebesar itu benar-benar terealisasi dan sebagian besar rantai nilainya berada di dalam negeri.

Karena itu, saya melihat pekerjaan ini bukan semata-mata urusan memasang panel surya.

Ini adalah kesempatan membangun ekosistem industri energi baru Indonesia.

Dari Ketahanan menuju Kedaulatan

Dunia sedang berubah.

Konflik geopolitik, perang, gangguan rantai pasok dan ketidakpastian perdagangan internasional telah memberikan pelajaran kepada hampir semua negara bahwa ketergantungan berlebihan terhadap pasokan strategis dari luar negeri adalah sebuah kerentanan.

Energi berada di jantung persoalan itu.

Tanpa energi, industri berhenti. Transportasi terganggu. Produksi pangan terdampak. Pertahanan melemah dan aktivitas ekonomi masyarakat ikut terguncang.

Tag: Opini, Bahlil, Golkar, AliNgabalin