Kabar Golkar

Bahlil dan Energi Kerja: Dari Desa Terang Menuju Kedaulatan Energi Indonesia

Oleh · · Opini

Prof. Ali Mochtar Ngabalin
Prof. Ali Mochtar Ngabalin

Program besar tersebut diawali dengan peluncuran 14 PLTS di enam provinsi dengan kapasitas total sekitar 5,3 GWp.

Ini bukan angka kecil.

Namun yang lebih penting daripada besarnya angka adalah arah kebijakannya: energi harus semakin dekat kepada rakyat.

Listrik adalah Keadilan

Bahlil menjelaskan bahwa Program PLTS 100 GWp akan menyasar pula desa-desa yang selama ini belum memperoleh akses listrik. Presiden Prabowo memberikan arahan agar listrik dapat dihadirkan hingga ke desa melalui pembangunan PLTS yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah.

Bagi saya, inilah salah satu wajah paling konkret dari keadilan sosial.

Kita tidak boleh berbicara terlalu tinggi mengenai industrialisasi, hilirisasi, ekonomi digital dan Indonesia Emas apabila masih terdapat anak bangsa yang belum memperoleh akses listrik secara layak.

Listrik bukan lagi barang mewah. Listrik adalah infrastruktur dasar peradaban.

Ketika listrik hadir di sebuah desa, sesungguhnya yang menyala bukan hanya lampu.

Sekolah dapat menggunakan teknologi pembelajaran. Fasilitas kesehatan dapat memberikan pelayanan lebih baik. Nelayan dapat menggunakan cold storage. Petani dapat memanfaatkan peralatan produksi. UMKM dapat tumbuh. Internet dapat menjangkau masyarakat. Anak-anak dapat belajar pada malam hari.

Listrik mengubah produktivitas masyarakat.

Karena itulah saya memandang program elektrifikasi desa bukan sekadar program Kementerian ESDM. Ini adalah program pembangunan manusia Indonesia.

Pemerintah sendiri menargetkan seluruh desa dan dusun di Indonesia telah berlistrik pada 2029. Maka pekerjaan menuju ke sana memang harus dilakukan dengan kecepatan yang tidak biasa.

Matahari kita, adalah Energi kita

Ada pertanyaan sederhana.

Indonesia memperoleh sinar matahari hampir sepanjang tahun. Mengapa anugerah sebesar itu tidak kita ubah menjadi kekuatan ekonomi dan energi nasional?

Selama bertahun-tahun, sejumlah wilayah terpencil masih bergantung pada pembangkit berbahan bakar diesel. Persoalannya bukan hanya harga BBM, tetapi juga biaya distribusi dan logistik untuk membawa solar ke pulau-pulau dan kawasan terpencil.

Tag: Opini, Bahlil, Golkar, AliNgabalin