Catatan dari ASEAN Future Forum 2026, Masa Depan Kerjasama Partai Politik di Asia Tenggara
Oleh Rudy · · Opini
Paparan tentang kemajuan ekonomi Vietnam tak kalah menarik. Dalam dekade terakhir, Vietnam menjelma menjadi tujuan investasi manufaktur terkemuka di Asia. Data Badan Statistik Vietnam menunjukkan pertumbuhan PDB mencapai 8,02% pada 2025, salah satu tertinggi di dunia. Pemerintah Vietnam secara disiplin membangun efektivitas birokrasi, menyederhanakan perizinan investasi, dan memberikan insentif fiskal kompetitif. Kemudahan berusaha ini membawa dampak nyata: gelombang relokasi pabrik dari berbagai negara, termasuk Indonesia, ke Vietnam.
Fenomena ini patut menjadi perhatian serius. Data Kementerian Perindustrian RI mencatat pada periode 2021-2025, lebih dari 30 perusahaan besar dari sektor tekstil, alas kaki, dan elektronik menutup operasi di Indonesia atau mengurangi kapasitas produksi secara signifikan. Beberapa di antaranya, seperti pabrik sepatu Adidas dan Nike serta pabrik komponen elektronik, memilih pindah ke Vietnam dengan alasan biaya produksi lebih murah, upah tenaga kerja dan logistik yang efisien, serta jaminan stabilitas investasi dan keamanan yang kredibel.
Dorongan sektor swasta Vietnam juga agresif menembus pasar ASEAN. Ekspansi mobil listrik VinFast menjadi contoh nyata. Setelah resmi masuk Indonesia pada 2024, VinFast mendirikan pabrik perakitan di Subang, Jawa Barat, dengan investasi awal sekitar USD 1,2 miliar. Mereka bahkan menggandeng aplikasi Green SM yang mulai menjamur di kota-kota besar Indonesia, menawarkan layanan taksi dan sewa kendaraan listrik. Kehadiran VinFast membuktikan Vietnam tidak hanya menjadi basis produksi, tetapi juga eksportir teknologi dan solusi mobilitas hijau.
Sektor pariwisata Vietnam juga digarap serius. Promosi agresif destinasi seperti Ninh Binh, Sa Pa, Da Nang, dan Teluk Ha Long berhasil mendongkrak jumlah wisatawan internasional. Pada 2025, Vietnam menerima lebih dari 21 juta kunjungan wisatawan asing, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya, menurut laporan Tổng cục Du lịch Vietnam. Ini menjadi pelajaran bahwa penguatan sektor pariwisata, didukung kebijakan visa longgar dan promosi digital, mampu menjadi tulang punggung ekonomi baru.
Tag: Opini, ASEAN, Forum, Golkar, AdheNuansa