Kabar Golkar

Ahmad Doli Kurnia: “Melindungi Pahlawan Devisa”

Oleh · · Opini

Ahmad Doli Kurnia Tandjung
Ahmad Doli Kurnia Tandjung

KabarGolkar - Bagi sebagian masyarakat, menjadi pekerja migran bukan sekadar pilihan pekerjaan, melainkan juga jalan terakhir untuk mengubah nasib keluarga. Dari desa-desa di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi, ribuan orang meninggalkan kampung halaman dengan mimpi sederhana: memperoleh penghasilan yang lebih baik, membangun rumah, menyekolahkan anak, atau membantu orang tua.

Namun, di balik mimpi itu, tidak sedikit yang justru terjebak dalam penderitaan. Ada yang paspornya ditahan, mengalami kekerasan, dipaksa bekerja di sektor ilegal, menjadi korban perdagangan manusia, bahkan meninggal dunia di negeri orang tanpa perlindungan yang memadai. Fenomena ini bukan lagi cerita sporadis, melainkan persoalan nasional yang harus dipandang sebagai krisis perlindungan warga negara.

Pengalaman mendampingi TKI asal Binjai, Sumatera Utara, yang menghadapi persoalan di Kamboja—membuka mata penulis bahwa persoalan pekerja migran cukup kompleks. Karena itu, isu perlindungan tenaga kerja migran tidak boleh dipandang sekadar isu ketenagakerjaan. Ini adalah persoalan kemanusiaan, martabat bangsa, dan tanggung jawab konstitusional negara.

Selama bertahun-tahun, pekerja migran Indonesia sering disebut sebagai “pahlawan devisa”. Sebutan itu bukan tanpa alasan. Remitansi atau kiriman uang dari pekerja migran memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Menurut data Bank Indonesia dan Bank Dunia, remitansi pekerja migran Indonesia mencapai miliaran USD setiap tahun. Uang tersebut turut menopang konsumsi rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan keluarga, hingga perputaran ekonomi di daerah.

Ironisnya, kontribusi besar itu tidak selalu diikuti oleh perlindungan yang memadai. Banyak pekerja migran justru berangkat melalui jalur nonprosedural karena minimnya informasi, lemahnya pengawasan, dan maraknya sindikat perekrutan ilegal. Kondisi ini diperparah oleh berkembangnya kejahatan transnasional berbasis digital.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga Indonesia direkrut ke negara-negara tertentu dengan iming-iming pekerjaan bergaji tinggi. Faktanya, mereka dipaksa bekerja dalam jaringan penipuan daring atau online scam. Sebagian korban bahkan mengalami penyiksaan fisik dan tekanan psikologis. Kasus-kasus di Kamboja, Myanmar, Laos, dan beberapa negara lain menunjukkan bahwa modus eksploitasi terhadap pekerja migran semakin modern dan terorganisir.

Tag: Opini, Pekerja, Migran, Devisa, AhmadDoli