Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia: Diplomasi Energi
Oleh Rudy · · Opini
Bila diamati satu per satu, tiga kota itu mungkin terlihat seperti agenda diplomatik yang padat. Akan tetapi, bila dibaca sebagai satu kesatuan, rangkaian perjalanan itu adalah gambaran paling jujur tentang bagaimana Indonesia merespons dunia yang berubah lebih cepat daripada yang pernah direncanakan.
Saat ini, Selat Hormuz, nadi bagi sekitar 1/3 perdagangan minyak laut dunia, berada dalam kondisi paling genting dalam sejarah kontemporer.
Amerika Serikat (AS) telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Tiongkok menyebut langkah itu berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Prancis bergerak menjadi tuan rumah konferensi multilateral di Paris untuk membahas pemulihan kebebasan navigasi di selat tersebut.
Peluang setipis apa pun tetap perlu diperjuangkan demi perbaikan keadaan. Sementara itu, perundingan damai antara Washington dan Teheran berjalan tersendat, kapal-kapal tanker masih bergerak di bawah bayang-bayang ketidakpastian.
Konflik ini tidak mengirimkan surat pemberitahuan. Ia terjadi tiba-tiba untuk menguji satu per satu fondasi ketahanan energi sebuah bangsa. Bagi Indonesia, ujian tersebut hadir pada waktu yang tidak bisa dipilih.
Selama ini, sebagian besar minyak mentah yang diimpor mengalir dari kawasan Timur Tengah, melalui kawasan yang kini menjadi medan krisis. Ketika Selat Hormuz menyempit, bukan hanya harga yang bergolak, pasokan pun terancam terputus sehingga kerentanan struktural yang sudah terlalu lama mengintip berada dalam ancaman yang nyata. Inilah yang membuat setiap keputusan yang diambil hari ini terasa seperti pilihan yang tidak bisa ditunda.
Kunjungan ke Moskow memiliki landasan berpikir yang kukuh. Politik luar negeri bebas aktif bukan slogan seremonial yang dibacakan di forum-forum internasional. Ia instrumen nyata yang harus dioperasikan untuk kepentingan rakyat.
Rusia ialah salah satu produsen minyak dan gas terbesar di dunia. India mengambil posisi memanfaatkan peluang itu lebih awal. Tiongkok sudah lama melakukannya. Ketika saya bercakap dengan Menteri Tsivilev dan Rusia menyatakan kesiapan penuh berkolaborasi dalam penyediaan minyak, gas, penyimpanan, hingga ketenagalistrikan, yang sedang kita kerjakan sebenarnya ialah menerjemahkan doktrin bebas aktif itu menjadi cadangan energi konkret bagi 280 juta jiwa masyarakat Indonesia.
Tag: Opini, Diplomasi, Energi, Bahlil, Prabowo